MAKALAH
PEMBERIAN OBAT PARENTERAL
Disusun oleh :
Cep irvan somantri
(X.A)
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN KESEHATAN
DARMAWANGSA CIANJUR
A.latar belakang
salah satu bentuk sediaan steril adalah injeksi,injekai adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus di larutkan atau di suspensikan terlebih dahulu .
suatu sedian parenteral harus steril karena sediaan ini unik yang di injeksikan atay di suntikan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam kompartemen tubuh yang paling dalam
B.rumusan masalah
apa yang di maksud pemberian obat parenteral ?
apa tujuan pemberian secara parenteral ?
bagaimana cara memberikan ?
mengenal tindakan sesuan SOP ?
C.tujuan
dengan membaca makalah ini di harapkan kita mengetahui dan mengerti akan cara pemberin sesuai SOP dan melaksanakan mengingat SOP sangatlah penting
D.sitematika penulisan
Makalah ini tersusun atas BAB 1 PENDAHULUAN yang tersusun atas latar belakang ,Rumusan msalah, Tujuan, Sistematika penulisan, BAB II PEMBAHASAN Terdiri dari mengenal pengobatan parenteral,macam2 cara pemberian ,peralatan yang di perlukan, BAB III PENUTUP terdiri dari kesimpulan dan daftar pustaka
A.depinisi pemberian obat parenteral
memasukan obat tertentu ke dalam jaringan tubuh dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau selaput lendir atau menembus satu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa menggunakan alat suntik
obat di masukan ke dlam kulit, di bawah kulit, ke dalam otot, dan ke dalam vena, dan pemberian ini lebih cepat di serap daripada melalui oral
jadi pemberial obat parenteral adlah pemberian obat atau cairan dengan cara di masukan langsung ke dlam kulit, di bawah kulit,ke dalam otot dan ke dalam vena.
B.tujuan
mencegah penyakit dengn jalan memerikan kekebalan atau imunisasi (misalnya DPT,BCG)dll
melaksanakan uji coba obat
melaksanakan tindakan diagnostik
mempercepat reaksi obat dalam tubuh untuk memper cpat penyembuhan
Pemberian obat parenteral di berikan kepada :
pasien yang memerlukan obat dengan reaksi cepat
klien yang tidak bisa di berikan obat melalui oral
klien dengan penyakit tertentu yang hanya bisa mendapatkan pengobatan secara suntikan (misalnya insulin)
C.macam cara pemberian obat parenteral
penyuntikan dilakukan dengan cara :
intra cutan
subcutan
intra muscular
intravena
1. injeksi intra cutan
Adalah pemberian obat atau cairan dengan cara di masukan langsung ke kulit
tujuan :
melaksanakan uji coba obat tertentu ( skin test )
membantu menentukan diagnosa terhadap pentakit tertentu misalnya pada tuberculin test
peralatan :
sarung tangan 1 pasang
spuit sesuai ukuran
jarm steril
kapas alkohol
perlak dan pengalas
nampan
obat sesuai program
bngkok dan bolpoin
prosedur pelaksanaan :
melakukan verifikasidata sebeumnya
mencuci tangan
menyiapkan obat sesuai prinsip (mrngambil 0,1 cc dan encerkan lagi dengan aquades hingga menjadi 1cc. 0,1 cc sebelumnya diambil dari 5cc obat yang sudah di encerkan)
membawa obat ke dekat klien
Tahap orientasi
memberi salam
menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan
menanyakan kesiapan klien
Tahap kerja
membasa basmalah
mengatur posisi sesuai kebutuhan, memasang perlak dan alas nya
membebaskan daerah yang akan di injeksi
memakai handscoon
bersihkan kulit yang akan di suntik
gunakan telunjuk dan ibu jari untuk meregangkan kulit
tusukan spuit dengan kemiringan 15-20 jarum masuk kurang lebih 0,5 cm
masukan obat secara perlahan pastikan ada benjolan kira kira satu biji kacang lalu cabut jarum dari tempat penusukan
beri tanda lingkaran pada tanda benjolan tadi
buang spuit ke dalam bengkok
Tahap terminasi
merapikan pasien
membaca tahmid, berpamitan dengan klien dan keluarganya
bereskan alat alat
cuci tangan
dokumentasi
2.injeksi sub cutan
pengrtian :
memberikan obat melalui suntikan di bawah kulit yang di lakukan pada lengan atas sebelah luar pada bagian luar dada dan daerah yang di anggap perlu
lokasi :
area vaskular di sekitar bagian lengan luar atas abdomen dari batas bawah costa sampai iliaca dan bagian anterior paha
peralatan :
sarung tangan 1 pasang
sepuit dengan ukuran sesuai kebutuhan
jarum steril
kapas alkhol dalam kom
perlak dan pengalas
obat sesuai prgram terapi
baki atau toli
bengkok
prosedur injeksi :
Tahap prainteraksi
lakukan verifikasi data
mencuci tangan
menyiapkan obat sesuai aturan
membawa alat ke dekat klien
Tahap orientasi
memberikan salam
menjlaskan tujuan dan prosedur tindakan
menanyakan kesiapan klien
Tahap Kerja :
Baca tasmiyah
Atur posisi klien sesuai kebutuhan
Pasang perlak dan pengalas
Bebaskan daerah yang akan di injeksi
Pakailah handscoon
Bersihkan kulit menggunakan kapas alkohol dari dalam ke luar
Masukan spuit dengan sudut 45
Lakukan aspirasi, pastikan tidak ada darah masuk ke spuit
Masukan obat secara perlahan
Cabut jarum
Buang spuit dalam bengkok
Tahap terminasi :
Rapikan klien, lakukan evaluasi, membaca tahmid, berpamitan, bereskan alat, cuci tangan lalu dokumentasi.
3 Injeksi Intra Muscular
Definisi :
Adalah pemberian obat atau cairan dengan cara dimasukan langsung kedalam otot.
Lokasi :
Otot vastus lateralis
Otot ventrogluteal
Otot deltoid
Dorsa gluteus
Sepertiga sias atas
Kecepatan Obat :
Rute IM memungkinkan absorbsi obat yang lebih cepat daripada SC karena pembuluh darah lebih banyakdi otot. Berlangsung sekitar antara 10 – 30 menit.
Peralatan :
Sarung tangan 1 pasang
Spuit dengan ukuran sesuai kebutuhan
Jarum steril
Kapas alkohol dalam kom
Perlak dan pengalas
Obat sesuai program terapi
Baki atau troli
Bengkok 1
Prosedur Injeksi :
Tahap Pra Interaksi
Lakukan verifikasi data
Mencuci tangan
Menyiapkan obat sesuai aturan
Membawa alat ke dekat klien
Tahap Orientasi :
Memberikan salam
Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan
Menanyakan kesiapan klien
Tahap Kerja :
Atur posisi klien
Pasanglah perlak
Bebaskan daerah yang akan di injeksi
Pakailah handscoon
Tentukan tempat penyuntikan
Bersihkan kulit dengan kapas alkohol
Regangkan kulik, masukan spuit dengan sudut 90 derajat, dengan kedalaman 2/3 jarum
Lakukan aspirasi, pastikan tidak ada darah masuk ke spuit
Masukan obat secara perlahan
Cabut jarum, tekan daerah tusukan menggunakan kapas alkohol.
Buang spuit dalam bengkok
Tahap terminasi :
Rapikan klien, lakukan evaluasi, membaca tahmid, berpamitan, bereskan alat, cuci tangan lalu dokumentasi.
4 Injeksi Intra Vena
Definisi :
Adalah pemberian obat dengan cara dimasukan langsung kedalam pembuluh darah vena.
Lokasi :
Pada vena yang nampak jelas, lurus, jauh dari tulang
Kecepatan Obat :
Menghasilkan efek tercepat sekitar 18 detik
Peralatan :
Peralatan :
Sarung tangan 1 pasang
Spuit dengan ukuran sesuai kebutuhan
Jarum steril
Torniquet
Kapas alkohol dalam kom
Perlak dan pengalas
Obat sesuai program terapi
Baki atau troli
Bengkok 1
Prosedur injeksi :
Tahap Pra Interaksi
Lakukan verifikasi data
Mencuci tangan
Menyiapkan obat sesuai aturan
Membawa alat ke dekat klien
Tahap Orientasi :
Memberikan salam
Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan
Menanyakan kesiapan klien
Tahap Kerja :
Membaca tasmiyah
Mengatur posisi klien dan pilih vena dari arah distal
Memasang perlak dan alasnya
Bebaskan daerah yang akan di injeksi
Ikat dengan torniquet 5 cm proksimal yang akan di tusuk
Pakailah handscoon
Bersihkan kulit dengan kapas alkohol dari dalam ke luar
Pegang spuit dengan sudut 30
Tusukan dengan kemiringan 30
Lakukan aspirasi dan pastikan darah masuk ke spuit
Buka torniquet
Masukan obat secara perlahan
Cabut spuit dan tekan daerah tusukan dengan kapas alkohol
Buang spuit dalam bengkok.
Tahap terminasi :
Rapikan klien, lakukan evaluasi, membaca tahmid, berpamitan, bereskan alat, cuci tangan lalu dokumentasi.
5 Injeksi Bolus Intra Vena
Adalah pemberian obat dengan cara dimasukan langsung kedalam pembuluh darah vena yaitu melalui bolus.
Prinsipnya sama dengan intra vena yaitu obat dimasukan ke dalam pembuluh vena.
Untuk peralatan :
Sarung tangan 1 pasang
Spuit dengan ukuran sesuai kebutuhan
Jarum steril
Kapas alkohol dalam kom
Perlak dan pengalas
Obat sesuai program terapi
Baki atau troli
Bengkok 1
Tahap injeksi kita tetap melakukan tahap pra interaksi, orientasi, tahap kerja, tahap terminasi.
Tahap Kerjanya :
Bolus di desinfektan menggunakan kapas alkohol
Klem selang infus atau guyur disesuaikan kondisi
Masukan jarum dalam bolus, tarik plunger untuk aspirasi
Masukan obat secara perlahan
Atur kembali klien
F. Hasil Analisa
a. Kesenjangan antara SOP dengan realita
Pada dasarnya prinsip pemberian injeksi ini sama baik yang dilakukan secara SOP yang kami dapat dari kampus atau yang di realita lapangan, prinsip inilah yang terpenting untuk kita ketahui. Masalah perbedaan yang kami dapat hanyalah dari peralatan, dimana dilapangan perawat hanya menenteng spuit dan kapas alkohol saja, ditambah torniquet jika melakukan injeksi intravena.
Namun ada hal yang lebih penting yang harus diperhatikan perawat di lapangan yaitu komunikasi teraupetik yang semakin lama pudar karena rutinitas, kadang perawat kurang memperhatikan hal itu. Justru kami yakin bahwa kesehatan bukan hanya diobati dari fisik saja namun juga dari jiwa.
b. Faktor Penyebab Kesenjangan
Untuk peralatan injeksi kami yakin rumah sakit sudah mencukupi, karena ini merupakan alat sederhana namun kenapa bisa menyebabkan perbedaan itu ?
Perawat hanya mengedepankan prinsip pemberian saja yang merupakan prinsip pokok.
Efisiensi waktu dan alat
Untuk kesenjangan dalam hal komunikasi untuk memperhatikan dan memotivasi jiwa hal ini dikembalikan kepada pribadi masing – masing namun penyebab kesenjangan ini mungkin karena perawat merasa klien sudah ada keluarga yang menemaninya. Klien sudah besar dan bisa ngurus dirinya sendiri kecuali klien struk dan koma, perawat sudah lama bekerja sehingga bosan untuk komunikasi yang lebih dekat ataupun perawat sudah memiliki cara tersendiri dalam menghadapi klien.
c. Solusi Kesenjangan
Untuk masalah alat dimana perawat hanya membawa alat seadanya dan tidak sesuai SOP kita harus mengerti bahwa SOP di susun sebagai suatu acuan yang nyaman, aman dan rupawan. Jika dilakukan maka klien nyaman, kita dan klien aman serta dipandang berseni. Perlu diingat Standard operasional Prosedur keperawatan disusun sebagai cara tepat, cepat dan manfaat dengan memperhatikan efektifitas dan efisien.
Untuk masalah komunikasi
Bahwa konsep dasar keperawatan menurut ROY dengan adaptasinya menggambarkan bahwa manusia juga memerlukan perhatian kesehatan jiwa. Kita meyakini bahwa orang sakit fisiknya biasanya kondisi jiwanya lemah. Kesehatan jiwa juga sangat berpengaruh pada kesehatan fisik. Bagaimana klien sehat jika fisiknya sakit terus jiwanya disakiti.
Untuk itu kita bisa mengerti dan memilih mana yang baik yaitu kita mengobati fisik klien dengan memperhatikan bebannya. Kita jadi perawat yang multifungsi.
d. Keuntungan Melakukan Prasat Sesuai SOP dan Tidak Sesuai SOP
Sesuai SOP
Kita akan menjadi perawat yang berkualitas, sebagai perawat yang tidak hanya memberi perawatan fisik namun juga jiwa, klien merasa nyaman, kita dan klien merasa aman serta dipandang orang kita sangat rupawan. Pekerjaan kita lebih tertata, efektif dan efisien.
Tidak sesuai SOP
Tidak ada keuntungannya hanya prinsipnya saja yang terpenuhi.
e.Kerugian melakukan prasat sesuai SOP dan tidak sesuai SOP
Kerugian melakukan sesuai SOP
Saya yakin, tidak akan pernah ada kerugiannya karena SOP disusun sebagai standard acuan yang sudah memperhatikan fakta dilapangan.
Kerugian melakukan prasat tidak sesuai SOP
Mungkin jika kita melakukan tindakan tidak sesuai SOP akan menjadi masalah baik ringan ataupun fatal. Kita mengetahui jika obat salah pemberian bisa menjadikan fatal, namun jika hanya beberapa alat misal bengkok mungkin tak menjadi masalah namun tetap dipandang kurang indah karena tidak ada tempat untuk membuang.
Catatan :
keterbatasan alat tidak menjadi masalah karena perawat dituntut untuk kreatif, kita bisa menjadikan sesuatu untuk mengganti kekurangan, misal bekas plabot menjadi bengkok.dll
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Memasukan obat tertentu ke dalam jaringan tubuh dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir atau menembus suatu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa menggunakan alat suntik. ( depkes RI 1994 )
Obat dimasukan ke dalam kulit, dibawah kulit, kedalam otot dan ke dalam vena dan pemberian ini lebih cepat diserap daripada melalui oral. ( WHO 1998 )
Jadi pemberian obat perenteral adalah pemberian obat atau cairan dengan cara dimasukan langsung kedalam kulit, dibawah kulit, kedalam otot ataupun ke dalam vena.
Penyuntikan dilakukan dengan cara :
Intra cutan
Subcutan
Intra muscular
Intravena
Pada dasarnya prinsip pemberian injeksi ini sama baik yang dilakukan secara SOP yang kami dapat dari kampus atau yang di realita lapangan, prinsip inilah yang terpenting untuk kita ketahui. Masalah perbedaan yang kami dapat hanyalah dari peralatan, dimana dilapangan perawat hanya menenteng spuit dan kapas alkohol saja, ditambah torniquet jika melakukan injeksi intravena.
Namun ada hal yang lebih penting yang harus diperhatikan perawat di lapangan yaitu komunikasi teraupetik yang semakin lama pudar karena rutinitas, kebosanan dan merasa profesional. Justru kami yakin bahwa kesehatan bukan hanya diobati dari fisik saja namun juga dari jiwa.
DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta.
WHO, (1998 ), Nursing care of the sick: A guide for nurses working in small rural hospitals.
Departemen kesehatan RI, dirjenyanmed, 1991. Prosedur keperawatan Dasar, Direktorat rumah sakit dan pendidikan.
http: // arsegofconfb.blogspotMAKALAH
PEMBERIAN OBAT PARENTERAL
Disusun oleh :
Cep irvan somantri
(X.A)
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN KESEHATAN DARMAWANGSA CIANJUR
A.latar belakang
salah satu bentuk sediaan steril adalah injeksi,injekai adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus di larutkan atau di suspensikan terlebih dahulu .
suatu sedian parenteral harus steril karena sediaan ini unik yang di injeksikan atay di suntikan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam kompartemen tubuh yang paling dalam
B.rumusan masalah
apa yang di maksud pemberian obat parenteral ?
apa tujuan pemberian secara parenteral ?
bagaimana cara memberikan ?
mengenal tindakan sesuan SOP ?
C.tujuan
dengan membaca makalah ini di harapkan kita mengetahui dan mengerti akan cara pemberin sesuai SOP dan melaksanakan mengingat SOP sangatlah penting
D.sitematika penulisan
Makalah ini tersusun atas BAB 1 PENDAHULUAN yang tersusun atas latar belakang ,Rumusan msalah, Tujuan, Sistematika penulisan, BAB II PEMBAHASAN Terdiri dari mengenal pengobatan parenteral,macam2 cara pemberian ,peralatan yang di perlukan, BAB III PENUTUP terdiri dari kesimpulan dan daftar pustaka
A.depinisi pemberian obat parenteral
memasukan obat tertentu ke dalam jaringan tubuh dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau selaput lendir atau menembus satu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa menggunakan alat suntik
obat di masukan ke dlam kulit, di bawah kulit, ke dalam otot, dan ke dalam vena, dan pemberian ini lebih cepat di serap daripada melalui oral
jadi pemberial obat parenteral adlah pemberian obat atau cairan dengan cara di masukan langsung ke dlam kulit, di bawah kulit,ke dalam otot dan ke dalam vena.
B.tujuan
mencegah penyakit dengn jalan memerikan kekebalan atau imunisasi (misalnya DPT,BCG)dll
melaksanakan uji coba obat
melaksanakan tindakan diagnostik
mempercepat reaksi obat dalam tubuh untuk memper cpat penyembuhan
Pemberian obat parenteral di berikan kepada :
pasien yang memerlukan obat dengan reaksi cepat
klien yang tidak bisa di berikan obat melalui oral
klien dengan penyakit tertentu yang hanya bisa mendapatkan pengobatan secara suntikan (misalnya insulin)
C.macam cara pemberian obat parenteral
penyuntikan dilakukan dengan cara :
intra cutan
subcutan
intra muscular
intravena
1. injeksi intra cutan
Adalah pemberian obat atau cairan dengan cara di masukan langsung ke kulit
tujuan :
melaksanakan uji coba obat tertentu ( skin test )
membantu menentukan diagnosa terhadap pentakit tertentu misalnya pada tuberculin test
peralatan :
sarung tangan 1 pasang
spuit sesuai ukuran
jarm steril
kapas alkohol
perlak dan pengalas
nampan
obat sesuai program
bngkok dan bolpoin
prosedur pelaksanaan :
melakukan verifikasidata sebeumnya
mencuci tangan
menyiapkan obat sesuai prinsip (mrngambil 0,1 cc dan encerkan lagi dengan aquades hingga menjadi 1cc. 0,1 cc sebelumnya diambil dari 5cc obat yang sudah di encerkan)
membawa obat ke dekat klien
Tahap orientasi
memberi salam
menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan
menanyakan kesiapan klien
Tahap kerja
membasa basmalah
mengatur posisi sesuai kebutuhan, memasang perlak dan alas nya
membebaskan daerah yang akan di injeksi
memakai handscoon
bersihkan kulit yang akan di suntik
gunakan telunjuk dan ibu jari untuk meregangkan kulit
tusukan spuit dengan kemiringan 15-20 jarum masuk kurang lebih 0,5 cm
masukan obat secara perlahan pastikan ada benjolan kira kira satu biji kacang lalu cabut jarum dari tempat penusukan
beri tanda lingkaran pada tanda benjolan tadi
buang spuit ke dalam bengkok
Tahap terminasi
merapikan pasien
membaca tahmid, berpamitan dengan klien dan keluarganya
bereskan alat alat
cuci tangan
dokumentasi
2.injeksi sub cutan
pengrtian :
memberikan obat melalui suntikan di bawah kulit yang di lakukan pada lengan atas sebelah luar pada bagian luar dada dan daerah yang di anggap perlu
lokasi :
area vaskular di sekitar bagian lengan luar atas abdomen dari batas bawah costa sampai iliaca dan bagian anterior paha
peralatan :
sarung tangan 1 pasang
sepuit dengan ukuran sesuai kebutuhan
jarum steril
kapas alkhol dalam kom
perlak dan pengalas
obat sesuai prgram terapi
baki atau toli
bengkok
prosedur injeksi :
Tahap prainteraksi
lakukan verifikasi data
mencuci tangan
menyiapkan obat sesuai aturan
membawa alat ke dekat klien
Tahap orientasi
memberikan salam
menjlaskan tujuan dan prosedur tindakan
menanyakan kesiapan klien
Tahap Kerja :
Baca tasmiyah
Atur posisi klien sesuai kebutuhan
Pasang perlak dan pengalas
Bebaskan daerah yang akan di injeksi
Pakailah handscoon
Bersihkan kulit menggunakan kapas alkohol dari dalam ke luar
Masukan spuit dengan sudut 45
Lakukan aspirasi, pastikan tidak ada darah masuk ke spuit
Masukan obat secara perlahan
Cabut jarum
Buang spuit dalam bengkok
Tahap terminasi :
Rapikan klien, lakukan evaluasi, membaca tahmid, berpamitan, bereskan alat, cuci tangan lalu dokumentasi.
3 Injeksi Intra Muscular
Definisi :
Adalah pemberian obat atau cairan dengan cara dimasukan langsung kedalam otot.
Lokasi :
Otot vastus lateralis
Otot ventrogluteal
Otot deltoid
Dorsa gluteus
Sepertiga sias atas
Kecepatan Obat :
Rute IM memungkinkan absorbsi obat yang lebih cepat daripada SC karena pembuluh darah lebih banyakdi otot. Berlangsung sekitar antara 10 – 30 menit.
Peralatan :
Sarung tangan 1 pasang
Spuit dengan ukuran sesuai kebutuhan
Jarum steril
Kapas alkohol dalam kom
Perlak dan pengalas
Obat sesuai program terapi
Baki atau troli
Bengkok 1
Prosedur Injeksi :
Tahap Pra Interaksi
Lakukan verifikasi data
Mencuci tangan
Menyiapkan obat sesuai aturan
Membawa alat ke dekat klien
Tahap Orientasi :
Memberikan salam
Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan
Menanyakan kesiapan klien
Tahap Kerja :
Atur posisi klien
Pasanglah perlak
Bebaskan daerah yang akan di injeksi
Pakailah handscoon
Tentukan tempat penyuntikan
Bersihkan kulit dengan kapas alkohol
Regangkan kulik, masukan spuit dengan sudut 90 derajat, dengan kedalaman 2/3 jarum
Lakukan aspirasi, pastikan tidak ada darah masuk ke spuit
Masukan obat secara perlahan
Cabut jarum, tekan daerah tusukan menggunakan kapas alkohol.
Buang spuit dalam bengkok
Tahap terminasi :
Rapikan klien, lakukan evaluasi, membaca tahmid, berpamitan, bereskan alat, cuci tangan lalu dokumentasi.
4 Injeksi Intra Vena
Definisi :
Adalah pemberian obat dengan cara dimasukan langsung kedalam pembuluh darah vena.
Lokasi :
Pada vena yang nampak jelas, lurus, jauh dari tulang
Kecepatan Obat :
Menghasilkan efek tercepat sekitar 18 detik
Peralatan :
Peralatan :
Sarung tangan 1 pasang
Spuit dengan ukuran sesuai kebutuhan
Jarum steril
Torniquet
Kapas alkohol dalam kom
Perlak dan pengalas
Obat sesuai program terapi
Baki atau troli
Bengkok 1
Prosedur injeksi :
Tahap Pra Interaksi
Lakukan verifikasi data
Mencuci tangan
Menyiapkan obat sesuai aturan
Membawa alat ke dekat klien
Tahap Orientasi :
Memberikan salam
Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan
Menanyakan kesiapan klien
Tahap Kerja :
Membaca tasmiyah
Mengatur posisi klien dan pilih vena dari arah distal
Memasang perlak dan alasnya
Bebaskan daerah yang akan di injeksi
Ikat dengan torniquet 5 cm proksimal yang akan di tusuk
Pakailah handscoon
Bersihkan kulit dengan kapas alkohol dari dalam ke luar
Pegang spuit dengan sudut 30
Tusukan dengan kemiringan 30
Lakukan aspirasi dan pastikan darah masuk ke spuit
Buka torniquet
Masukan obat secara perlahan
Cabut spuit dan tekan daerah tusukan dengan kapas alkohol
Buang spuit dalam bengkok.
Tahap terminasi :
Rapikan klien, lakukan evaluasi, membaca tahmid, berpamitan, bereskan alat, cuci tangan lalu dokumentasi.
5 Injeksi Bolus Intra Vena
Adalah pemberian obat dengan cara dimasukan langsung kedalam pembuluh darah vena yaitu melalui bolus.
Prinsipnya sama dengan intra vena yaitu obat dimasukan ke dalam pembuluh vena.
Untuk peralatan :
Sarung tangan 1 pasang
Spuit dengan ukuran sesuai kebutuhan
Jarum steril
Kapas alkohol dalam kom
Perlak dan pengalas
Obat sesuai program terapi
Baki atau troli
Bengkok 1
Tahap injeksi kita tetap melakukan tahap pra interaksi, orientasi, tahap kerja, tahap terminasi.
Tahap Kerjanya :
Bolus di desinfektan menggunakan kapas alkohol
Klem selang infus atau guyur disesuaikan kondisi
Masukan jarum dalam bolus, tarik plunger untuk aspirasi
Masukan obat secara perlahan
Atur kembali klien
F. Hasil Analisa
a. Kesenjangan antara SOP dengan realita
Pada dasarnya prinsip pemberian injeksi ini sama baik yang dilakukan secara SOP yang kami dapat dari kampus atau yang di realita lapangan, prinsip inilah yang terpenting untuk kita ketahui. Masalah perbedaan yang kami dapat hanyalah dari peralatan, dimana dilapangan perawat hanya menenteng spuit dan kapas alkohol saja, ditambah torniquet jika melakukan injeksi intravena.
Namun ada hal yang lebih penting yang harus diperhatikan perawat di lapangan yaitu komunikasi teraupetik yang semakin lama pudar karena rutinitas, kadang perawat kurang memperhatikan hal itu. Justru kami yakin bahwa kesehatan bukan hanya diobati dari fisik saja namun juga dari jiwa.
b. Faktor Penyebab Kesenjangan
Untuk peralatan injeksi kami yakin rumah sakit sudah mencukupi, karena ini merupakan alat sederhana namun kenapa bisa menyebabkan perbedaan itu ?
Perawat hanya mengedepankan prinsip pemberian saja yang merupakan prinsip pokok.
Efisiensi waktu dan alat
Untuk kesenjangan dalam hal komunikasi untuk memperhatikan dan memotivasi jiwa hal ini dikembalikan kepada pribadi masing – masing namun penyebab kesenjangan ini mungkin karena perawat merasa klien sudah ada keluarga yang menemaninya. Klien sudah besar dan bisa ngurus dirinya sendiri kecuali klien struk dan koma, perawat sudah lama bekerja sehingga bosan untuk komunikasi yang lebih dekat ataupun perawat sudah memiliki cara tersendiri dalam menghadapi klien.
c. Solusi Kesenjangan
Untuk masalah alat dimana perawat hanya membawa alat seadanya dan tidak sesuai SOP kita harus mengerti bahwa SOP di susun sebagai suatu acuan yang nyaman, aman dan rupawan. Jika dilakukan maka klien nyaman, kita dan klien aman serta dipandang berseni. Perlu diingat Standard operasional Prosedur keperawatan disusun sebagai cara tepat, cepat dan manfaat dengan memperhatikan efektifitas dan efisien.
Untuk masalah komunikasi
Bahwa konsep dasar keperawatan menurut ROY dengan adaptasinya menggambarkan bahwa manusia juga memerlukan perhatian kesehatan jiwa. Kita meyakini bahwa orang sakit fisiknya biasanya kondisi jiwanya lemah. Kesehatan jiwa juga sangat berpengaruh pada kesehatan fisik. Bagaimana klien sehat jika fisiknya sakit terus jiwanya disakiti.
Untuk itu kita bisa mengerti dan memilih mana yang baik yaitu kita mengobati fisik klien dengan memperhatikan bebannya. Kita jadi perawat yang multifungsi.
d. Keuntungan Melakukan Prasat Sesuai SOP dan Tidak Sesuai SOP
Sesuai SOP
Kita akan menjadi perawat yang berkualitas, sebagai perawat yang tidak hanya memberi perawatan fisik namun juga jiwa, klien merasa nyaman, kita dan klien merasa aman serta dipandang orang kita sangat rupawan. Pekerjaan kita lebih tertata, efektif dan efisien.
Tidak sesuai SOP
Tidak ada keuntungannya hanya prinsipnya saja yang terpenuhi.
e.Kerugian melakukan prasat sesuai SOP dan tidak sesuai SOP
Kerugian melakukan sesuai SOP
Saya yakin, tidak akan pernah ada kerugiannya karena SOP disusun sebagai standard acuan yang sudah memperhatikan fakta dilapangan.
Kerugian melakukan prasat tidak sesuai SOP
Mungkin jika kita melakukan tindakan tidak sesuai SOP akan menjadi masalah baik ringan ataupun fatal. Kita mengetahui jika obat salah pemberian bisa menjadikan fatal, namun jika hanya beberapa alat misal bengkok mungkin tak menjadi masalah namun tetap dipandang kurang indah karena tidak ada tempat untuk membuang.
Catatan :
keterbatasan alat tidak menjadi masalah karena perawat dituntut untuk kreatif, kita bisa menjadikan sesuatu untuk mengganti kekurangan, misal bekas plabot menjadi bengkok.dll
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Memasukan obat tertentu ke dalam jaringan tubuh dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir atau menembus suatu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa menggunakan alat suntik. ( depkes RI 1994 )
Obat dimasukan ke dalam kulit, dibawah kulit, kedalam otot dan ke dalam vena dan pemberian ini lebih cepat diserap daripada melalui oral. ( WHO 1998 )
Jadi pemberian obat perenteral adalah pemberian obat atau cairan dengan cara dimasukan langsung kedalam kulit, dibawah kulit, kedalam otot ataupun ke dalam vena.
Penyuntikan dilakukan dengan cara :
Intra cutan
Subcutan
Intra muscular
Intravena
Pada dasarnya prinsip pemberian injeksi ini sama baik yang dilakukan secara SOP yang kami dapat dari kampus atau yang di realita lapangan, prinsip inilah yang terpenting untuk kita ketahui. Masalah perbedaan yang kami dapat hanyalah dari peralatan, dimana dilapangan perawat hanya menenteng spuit dan kapas alkohol saja, ditambah torniquet jika melakukan injeksi intravena.
Namun ada hal yang lebih penting yang harus diperhatikan perawat di lapangan yaitu komunikasi teraupetik yang semakin lama pudar karena rutinitas, kebosanan dan merasa profesional. Justru kami yakin bahwa kesehatan bukan hanya diobati dari fisik saja namun juga dari jiwa.
DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta.
WHO, (1998 ), Nursing care of the sick: A guide for nurses working in small rural hospitals.
Departemen kesehatan RI, dirjenyanmed, 1991. Prosedur keperawatan Dasar, Direktorat rumah sakit dan pendidikan.
http: // arsegofconfb.blogspot

Tidak ada komentar:
Posting Komentar